Tentang nama panggilan

Sebuah nama panggilan adalah sebuah nama yang bukan nama yang sesungguhnya dari seseorang. Sebuah nama panggilan kadangkala adalah nama yang disukai oleh si pemilik, menyimbolkan persetujuan, namun dapat pula merupakan sebuah lelucon atau olok-olok.

Misalnya saja seorang ayah memanggil anak pertamanya dengan sebutan kakak daripada menyebut nama sang anak secara langsung. Hal ini mengacu pada pengajaran bahwa dalam keluarga tersebut status sang anak adalah sebagai kakak, dimana sang adik harus menghormatinya dan memperlakukannya sebagai yang dituakan. Orang-orang bangsa Viking juga banyak memiliki nama panggilan yang merupakan sebuah status sosial buat si pemilik. Dan biasanya nama inilah yang lebih digunakan daripada nama keluarganya sendiri.

Nama panggilan bisa saja seperti panggilan sayang atau seperti sebuah ungkapan cinta bagi yang memanggil, misalnya saja panggilan sepasang kekasih, dimana yang satu memanggil “Cinta” dan yang satu memanggil ‘Sayang”.

Nama panggilan dapat pula merupakan kependekan dari nama panjang sang pemilik nama. Misalnya saja nama Pratiwi, dimana teman-teman dan kerabatnya biasa memanggilnya dengan Tiwi saja, dengan alasan bila harus memanggil dengan nama lengkap, akan terasa kepanjangan dan susah untuk didengar dengan jelas pada situasi yang mendesak. Contoh lain adalah nama salah satu teman lama saya yang bernama Ziphora. Nama yang agak aneh untuk nama Indonesia, dan karenanya kami cenderung memanggilnya dengan Zi saja agar lebih familiar di lidah kami.

Kalau bersifat ledekan atau lelucon, nama panggilan dapat mengacu pada ciri-ciri fisik si empunya nama. Misalnya saja “blacky”. Ada lho, seorang teman saya yang dipanggil seperti ini, memang sih cenderung merendahkan, namun nama ini sudah terlanjur tersebar luas dilingkungan kami. Seringkali nama blacky diberikan untuk anjing peliharaan yang berbulu hitam, namun kali ini, nama tersebut dilekatkan pada salah satu teman saya yang kebetulan berkulit hitam legam!. Bahkan orang-orang terkadang melupakan siapa nama aslinya. Menyedihkan, namun begitulah kenyataan yang berlaku. Apakah si empunya nama menjadi marah? Mungkin saja, tetapi bilamana lingkungan mayoritas sudah menggunakannya, menjadi marahpun percuma. Maka lebih terkenalah nama julukannya.

Pada zaman sekolah dulu, nama panggilan malah lebih ekstrim, dimana teman-teman senang sekali menggunakan nama bapak atau ayah untuk memanggil teman-temannya. Apabila kebetulan nama si bapak ternyata nama yang kuno atau lucu, maka meledaklah tawa teman-teman sekelas yang lain. Syukur-syukur tidak terjadi perkelahian karenanya tapi hal ini sungguh berbahaya untuk dilakukan. Maka para orang tua, ingatkanlah anak-anak anda. fiuh!

Nama panggilan bisa juga karena prestasi ata hal yang menakjubkan. Pernah ada seorang teman lama yang dikenal dengan si “Jenius” karena saat itu si sekolah kami, anak itu adalah yang paling pintar dan berprestasi paling luar biasa!.

Panggilan juga dapat berbeda antara lingkungan dan keluarga. Panggilan di lingkungan dan teman-teman adalah buah dari pergaulannya. Bisa jadi merupakan kependekan dari nama aslinya, atau lelocon atas fisiknya. Sedangkan panggilan dalam keluarga, cenderung mengandung perasaan kasih sayang dan perasaan kelarga yang selalu menganggap bahwa sang anak akan lucu terus sepanjang masa. Saya punya kemenakan yang sejak kecil dipanggil “galing” oleh ayah ibunya. Galing dalam bahasa Bali adalah bentuk ungkapan sayang pada seorang anak yang memiliki tubuh mungil dan padat (tidak begitu gemuk tapi juga tidak kurus). Namun ketika sang anak beranjak dewasa dan berubah fisiknya, bagi orangtua Galing, tetap saja sang anak adalah galing dan tidak bisa merubah cara panggilannya sampai sekarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

Anda dapat memakai tag dan atribut HTML ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>